Idealnya, kepemimpinan selalu dikaitkan dengan standar etika yang tinggi, integritas, dan kemampuan menanamkan nilai-nilai kebaikan (good values) untuk membawa organisasi menuju kesuksesan. Namun, realita di dunia bisnis menunjukkan dinamika yang berbeda. Tidak jarang, kita menemui individu di posisi strategis yang gagal memenuhi standar fundamental sebagai seorang pemimpin yang baik.
Individu-individu ini sering kali didorong oleh motif kekuasaan yang berlebihan. Alih-alih memberdayakan, proses kepemimpinan mereka justru berpotensi merugikan tim dan merusak ekosistem organisasi yang mereka pimpin.
Berdasarkan kajian dari Barbara Kellerman (Harvard University) mengenai Bad Leadership, sisi gelap kepemimpinan ini secara garis besar dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama yang merusak: Ineffective Leader dan Unethical Leader.
1. Ineffective Leader (Pemimpin yang Tidak Efektif) Kategori kepemimpinan ini berakar pada inkompetensi manajerial dan teknis. Seorang ineffective leader umumnya mengalami defisit yang signifikan dalam keterampilan dan pengetahuan (skill & knowledge) yang esensial untuk mengarahkan timnya. Indikator utamanya terlihat dari ketidakmampuan mereka dalam menyusun perencanaan strategis, penentuan taktik operasional yang melenceng dari sasaran, serta kurangnya dorongan internal atau motivasi untuk meraih keberhasilan (self-driven to succeed). Akibatnya, tim sering kali kehilangan arah, stagnan, dan gagal mencapai target bisnis yang diharapkan.
2. Unethical Leader (Pemimpin yang Tidak Etis) Jika ineffective leader berkaitan dengan krisis kompetensi, maka unethical leader berkaitan erat dengan krisis moral. Pemimpin dalam spektrum ini menunjukkan ketidakmampuan—atau keengganan—untuk membedakan hal yang benar secara etika dan yang salah. Ciri paling destruktif dari pemimpin ini adalah kecenderungan mereka untuk memanipulasi situasi demi meraup keuntungan pribadi, meskipun hal tersebut merugikan bawahan, kolega, atau bahkan menghancurkan organisasi itu sendiri. Kerusakan yang ditimbulkan oleh pemimpin tidak etis sangatlah fatal karena dapat menghancurkan budaya kerja, kepercayaan (trust), dan reputasi perusahaan dalam jangka panjang.
Memahami anatomi bad leadership merupakan langkah esensial bagi perusahaan untuk melakukan mitigasi dan pencegahan dini. Dengan mengenali ciri-ciri ineffective dan unethical leader, organisasi dapat lebih waspada dalam melakukan seleksi kepemimpinan dan segera mengimplementasikan program pengembangan untuk memastikan tampuk pimpinan dipegang oleh talenta yang tepat dan berintegritas.
Artikel ditulis oleh :
Rizal Diansyah Partner | C-Suite Executive Search | Coach | Former CEO, MD & CMO
Seasonal Singer, Dynamic Sales, Marketing, Leadership & HR Consultant dengan pengalaman ekstensif selama lebih dari 30 tahun dalam pengembangan bisnis dan sumber daya manusia, memberikan hasil yang berdampak di berbagai sektor. Keahliannya dalam pemasaran, franchising, dan manajemen proyek memungkinkan penciptaan strategi inovatif yang mendorong kesuksesan organisasi. Memiliki rekam jejak terbukti dalam mengelola tim secara efektif dan meningkatkan keterlibatan karyawan melalui inisiatif pelatihan dan pengembangan yang disesuaikan. Berkomitmen untuk memanfaatkan pengembangan SDM yang komprehensif serta keterampilan kepemimpinan demi memenuhi kebutuhan organisasi dan berkontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan dan performa bisnis secara keseluruhan.


